Puisi Untuk Bunda

Bunda

Sembilan bulan lamanya
Rahim dalam berada
Janin muda perut bunda
Pengorbanan tiada sia
Akhirnya aku lahir lahir juga

Dunia baru berseru
Pada diriku
Waktu dulu
Pada pangkuanmu

Jasa sejagat
Bercucuran keringat
Masih tetap semangat
Seiring kasih hangat
Dalam dekapan hanyat

Bunda
Waktu terus berporos
Pada kenyatan dunia
Dari balik tubuh polos
Doa pada bunda
Ananda bahagia

Bunda
Lanjut usia
Tetap saja kau setia
Terkadang ananda lupa
Masih terus bunda berdoa
Ku harap tak durhaka
Celakalah ananda
Neraka akan menyapa

Bunda
Ananda yang hina
Berharap tetap berguna
Walau jua tak ada
Selalu berusaha
Semoga bunda bahagia
Dunia memang berbeda
Tak mesti bersama
Bunda tetap di jiwa
Raga ananda,
Tetap bunda

Bunda
Untaian bunga
Ukiran bianglala
Lautan samudera
Intan permata
Kecantikan dunia
Tidak seberapa
Bunda tetaplah bunda
Terkenang sepanjang masa
Tak pernah ada akhirnya

Bunda
Wanita terhebat
Wanita terdekat
Ku kenal kau
Lewat nada merdu
Ku ucap kata ibu
Kaulah pelitaku
Tak akan padam
Terkadang meredam
Tetap tak mendendam

Dari kedingingan malam
Ananda memberi salam
Salam dari gubuk terdalam
Demi kerinduan terpendam

About these ads

7 thoughts on “Puisi Untuk Bunda

  1. Bunda

    Sembilan bulan lamanya
    Rahim dalam berada
    Janin muda perut bunda
    Pengorbanan tiada sia
    Akhirnya aku lahir lahir juga

    Dunia baru berseru
    Pada diriku
    Waktu dulu
    Pada pangkuanmu

    Jasa sejagat
    Bercucuran keringat
    Masih tetap semangat
    Seiring kasih hangat
    Dalam dekapan hanyat

    Bunda
    Waktu terus berporos
    Pada kenyatan dunia
    Dari balik tubuh polos
    Doa pada bunda
    Ananda bahagia

    Bunda
    Lanjut usia
    Tetap saja kau setia
    Terkadang ananda lupa
    Masih terus bunda berdoa
    Ku harap tak durhaka
    Celakalah ananda
    Neraka akan menyapa

    Bunda
    Ananda yang hina
    Berharap tetap berguna
    Walau jua tak ada
    Selalu berusaha
    Semoga bunda bahagia
    Dunia memang berbeda
    Tak mesti bersama
    Bunda tetap di jiwa
    Raga ananda,
    Tetap bunda

    Bunda
    Untaian bunga
    Ukiran bianglala
    Lautan samudera
    Intan permata
    Kecantikan dunia
    Tidak seberapa
    Bunda tetaplah bunda
    Terkenang sepanjang masa
    Tak pernah ada akhirnya

    Bunda
    Wanita terhebat
    Wanita terdekat
    Ku kenal kau
    Lewat nada merdu
    Ku ucap kata ibu
    Kaulah pelitaku
    Tak akan padam
    Terkadang meredam
    Tetap tak mendendam

    Dari kedingingan malam
    Ananda memberi salam
    Salam dari gubuk terdalam
    Demi kerinduan terpendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s