ode di tepi waktu

angin itu mendesis dalam dingin,
membawa setiap derai helai kehangatan, dengan indah yang mengiringi kabut,
tak ada senyum lembut, tak ada sapa yang terucap, hanya tatapan penuh sukacita
bayangan yang memanjang manarik diri dari tiarapnya matahari,
bulan menggantung berayun tak bertangkai
warna perak yang ada menyiram jelaga yang kelam
angin mendesis berbisik,
menghantar berita yang rona
tak bisa di kikis dengan kikir pertanyaan
berhambur tirai yang halus dan ramah
angin datang dengan sahaja
memanggil gigil yang tak berasa
menghembus asa kedalam raga
tuk mewartakan setiap kata yang bermakna.
jika pagi menjelang, angin memanggil bias keemasan
mengurai helai-helai kesangsian
membawa kerapuhan pada keteguhan.
kala mentari tertawa dahaga,
bisikan angin menggerus kebingungan
memantapkan tiang yang kokoh memajang

menopang imbangnya sang kala hari
angin pun menderu bangga, “aku datang padamu kembara jiwa!”

***********************************************

lihatlah sepenggal cerita tentang bumiku
yang rapuh bersamaan waktu
tak lepas diramu sekehendak pemburu
dengarlah dongeng tentang negriku
deritanya pilu dan sendu
tertatih tatih digarap nafsu
berdiri tegak dengan hati tanpa mengeluh,
meski begitu,
tengoklah jalan yang kutuju
tak akan jauh dari tempatmu bersauh
meniti tanpa ragu
mengait asa disisa waktu untuk setia slalu
tidak berhenti hingga nafas kembali pada Sang Penentu.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s