Category Archives: Puisi Patah Hati

Aku dan perasaan – oleh Ester Lita Nurdianti

Aku yang berada dalam sunyinya keheningan
Aku yang berada dalam kegelisahan pikiran
Aku yang berada dalam sakitnya perasaan
Membuat air mataku menetes dalam diam

Tatapmu bagai mata pisau
Aromamu bagai sedap malam terbawa angin
Continue reading

Cinta Sesaat Darimu – oleh Valeria Gifridus

Pada mulanya…
Ketika Kau menawarkan cinta padaku..
Aku menolaknya
Namun, setelah sekian lama
aku ingin memiliki cinta itu…
Tetapi !!!
Kala ku ingin menggapainya
seseorang telah mendahuluiku…

Apakah cinta yang kau tawarkan dulu,,
hanyalah cinta yang semu ? Ataukah hanya gurauan belaka ?
Continue reading

Jujur – oleh Mega Ayu Widya Putri

Dulu…
Saat kutatap matamu
Penuh akan kilauan cinta yanh tulus
Penuh akan kasih sayang untukku
Namun, kini semua itu telah tiada
Tak ada sedikitpun di relung hati
Semua rasa cinta dan kasih sayang
Tergantikan oleh kebencian yang mendalam
Tatapan sinis yang menghujam jiwa
Hati hancur bagai sekeping kaca yang rapuh
Sakit seperti tertusuk duri kaktus tepat di jantung
Sudah tak mampu ku bendung rasa sakit ini
Ingin sekali ku teteskan air mata
Namun apa daya, air mataku kering sudah
Semua kekecewaanku… Continue reading

Mati – oleh Farikha

Diam, tak bergerak
Sepi, tak berderap
Sunyi, tak gemerlap
Mati, tanpa jejak

Pilu
Saat ku ingat senyum di wajahmu
yang kini menyayat raga dan nyawaku
Continue reading

Kuatkan Aku – Azmi Aziz

Rabbi,kuatkan aku..
Kuatkan aku
Dari keterpurukkan ku
Kepedihan ku
Kesedihan ku
Kesakitan ku
Saat bersamanya…
Rabbi, sadarkan aku
Sadarkan aku
Dari kenyataan ini Continue reading

Seuntai kata – oleh Nicma Faneri

Seuntai kata
Buat kamu yang maksud
Buat kamu malaikatku
malam ini, dan di malam yang sesunyi ini ingin ku ungkapkan segalannya
Dengarkanlah sebentar saja,
aku tak memintamu untuk bicara atau berkata

dengarkan saja
pejamkan matamu
rasakan apa yang ku rasa Sampai saat ini, aku masih mencintai, aku telah berdosa
Continue reading

Gadis Di Bawah Hujan – oleh Farah Maulida

Mereka memanggilku gadis di bawah hujan
Yang berdiri tegak, samar dibalut rinainya
Yang terus menunduk, menghitung berapa banyak panah langit yang jatuh
Menembus… memburu…

Memang aku gadis di bawah hujan
Berharap satu bersama rinainya
Yang menyamarkan luka
Yang membasuh air mata
Continue reading