Category Archives: Puisi Islami

Surga-Nya – oleh Putri Nur Azizah

Alunan menenangkan hati membangunkan
Panggilan menjalankan kewajiban
Sesaat sebelum fajar
Hingga melakukan kewajiban
Telah dilakukan
Dan semua dilakukan dengan semangat

Kala sang surya telah sampai di sebelah kanan
Memberi gambaran siluet indah
Ditemani kabut tipis yang nyaman
Continue reading

About these ads

Sederet Kekecewaan – oleh Ahmad Fuad Setia Bakti

Aku kecewa…
Ketika ku bangun, bukan sebelum waktu subuh-Mu
Bukan ketika ku mengumandangkan senandung panggilan untuk menghadap-Mu….
Bukan ketika ku berdoa, bersimpuh mengharap ampunan-Mu….
Aku kecewa….
Ketika ku terus bermain, lupa akan waktu….
Tak berada di rumah-Mu, bertamu mengharap jamuan rahmat-Mu…
Dan berbahagia ketika ku mendengar seruan-Mu….
Aku kecewa….
Ketika ku bekerja terlalu giat, terlalu hebat…
Lewati saat indah bersujud tatkala matahari senja menyala
Rasa haru dan desir nikmat yang bersemayam di hati, menuntut bersama-Mu s’lalu yaa Rabbii…
Aku kecewa…
Tak bersedia, bergegas, menuju istana megah-Mu….
Membaca kitab surat cinta-Mu, berharap secuil mukjizat hinggap di diri…
Berharap hati sadar akan kehinaan diri…..
Berharap hati sadar akan dosa dosa ini….
Aku kecewa….
Menonton, menghujat, berdebat, tak bermanfaat….
Tatkala Engkau memanggilku, ingin bersamaku…
Di kesunyian bumi, bertasbih dan khidmat akan kebesaran dari sang Pencipta jagad ini…….
Aku kecewa…
Tak mengikuti belaian nikmat untuk bangun terjaga…
Menangisi diri, menangisi jiwa hina ini, menangisi setiap langkah yang tak berarti…..
Menangis harap lembut rahmat-Mu menghampiri……
Menangis harap ajakan menemui-Mu mendatangi…..
Menangis harap malaikat menjemput ketika ku suci…..
Ku harap Kau tak pernah kecewa padaku……
Walau tak pantas….
Ku tak ingin Kau kecewa padaku…..
Ku tak ingin Kau berhenti menghiburku……
Ku tak ingin Kau berpaling dariku…….
Ku tak ingin Kau menjauhiku…..
Ku tak ingin Kau tak mengurusku…….
Ku tak ingin Kau MENINGGALKANKU…..

Sederet Kekecewaan – oleh Ahmad Fuad Setia Bakti
Rangkasbitung

Sadarlah kalian – oleh Dani Balany

Saat aku tersadar…
Hidup ini hanya ujian
Untuk kita mencapai ridho-Nya

Saat aku tersadar…
Hidup ini sementara
Dan akan kekal pada waktunya

Merenungin apakah kita sudah berubah?
Apakah kita masih sering lalai dalam beribadah kepada-Nya
Apakah kita masih sering berfoya-foya mencari kesangan dunia yang tiada henti

Mungkinkah bila kita mati, semua itu akan mengikuti kita?
TIDAK
Tidak,dan tidak
Allah memberikan kita suka dan duka
Dia ingin kita selalu ingat pada-Nya
Dia ingin kita mengadu hanya pada-Nya
Meminta hanya pada-Nya

Dia selalu iri disaat kita lebih memilih kesenangan dunia
Daripada mengingat dan beribadah pada-Nya
Kita ini seperti hidup pada jaman kebodohan
Kacang yang lupa pada kulitnya

Buatlah hidup kita dengan masa depan yang cerah
Dengan bimbingan dan rahmat yang diridhoi oleh-Nya
Thank you Allah

Sadarlah kalian – oleh Dani Balany
Kalimantan

Ya lailati lailatul qadar – oleh Syariefnapmur

Ya laeilati, laeilatul qadar,
kusapu tiap jengkal lantainya dari debu kurapat, dindingnya pun bersih dari ajimat.
Sudilah kau singgah meski sesaat.
Setiap doa sepanjang ramadhanku, menjadi hiasan dindingnya.
Kupasang lentera dari tiap lantunan firman-NYA menjadi penerang jalan yg kan kau lalui.
Mampirlah,,,
Kumohon pada-NYA.
Datanglah,,
Jadilah tetamu diakhir malam ramadhanku.
Separuh umurku berhias dosa, Wahai malam yang didalamnya penuh ampunan jadilah penghapusnya.
Ibadahku tiada seberapa, maka jadilah pelipat gandanya karna engkaulah malam yang lebih baik dari seribu malam.
Ya lailati lailatul qadar
Disepuluh dari akhir ramadhan datangmu ku nanati, singgahlah meski sebentar.
Kusapu lantainya dari debu dosa setiap malam ramadhanku.
Dengan doa berbingkai saum berukir niat sahur dan doa berbuka sebagai hiasan dindingnya.
Trawihku dan juga tadarusku semoga menjadi lentera terang menuju diriku….
Pagi ini…
Kukirim salam sebagai undangan buat mu, kutitipkan dalam doa sholat subuhku, kupinta kehadiranmu kepada-NYA. Izinkan…
Kabulkan….
Pertemukan….
Diriku dengan malam yg kau berkahi itu ya ROBBI…..

Ya lailati lailatul qadar – oleh Syariefnapmur
Kodya mataram NTB

Rentang Waktu – oleh Ahmad Sururi

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa kita hanya manusia yang tak punya apa-apa
selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa
melainkan hati yang ada di dalam dada
dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda
tergantung dalam keadaan apa kita berada
Namun Tuhan telah berkata,
“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,
“Waktu adalah dollar di dalam kantung”
Namun Hasan Al-Bana berkata,
“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Alam terus menari dalam simfoninya
Umur manusia didikte olehnya
setiap detaknya
memakukan kita di persimpangan jalan
jalan Tuhan atau jalan setan
Rentang waktu…..
semoga tak melalaikan kita tuk terus berjalan di jalan-Nya

Rentang Waktu – oleh Ahmad Sururi
sururi3@facebook.com
Surabaya

Waktu yang Kurindu – oleh Irfan S.P.

Rindu ….
Kala kaki singgah di tempat raga ini bersujud,
Orang-orang berdesakkan
tuk penuhi seruan-Nya .

Rindu …
Saat kemanapun raga ini dibawa,
selalu terngiang
lantunan surat cinta dari-Nya

Rindu …
kerinduan yang kutunggu setahun lamanya,
karena berkah bertebaran di saat ini.

Saat orang-orang belajar lagi
untuk mendekatkan diri pada-Nya,
kala berlomba dalam beribah
karena hanya mengharap ridho-Nya

Semoga kerinduan ini bisa terobati,
dengan adanya pemandangan tadi
sepanjang bulan di tahun depan.

Puisi ini karya : Irfan S.P.
Bandung

Keagungan Nabi Muhammad – oleh Ahmad Sururi

PUISI ISRO’ MI’ROJ

Kami tak tau apa yang harus kami lakukan
Kau yang selalu mengerti kami
Kau yang tak pernah letih menasehati kami
Kau yang selalu menemani jiwa-jiwa yang gersang

Kaulah Sang kekasih Allah
Insan yang selalu membela ummatnya
Insan yang paling mulia diantara yang mulia
Tanpa kamu kami merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa kamu juga kami tidaklah ada

Kami hanyalah seorang manusia lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih darimu
Kekuatan yang lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagi kami
Walaupun kami tak pernah melihatmu
Perangaimulah yang telah merasuk ke dalam benak kami
Mengajari kami akan arti hidup yang sebenarnya
Menuntun kami menuju ridho ilahi

Malam ini menjadi sejarah bagi kami
dan malam ini pula, kami mengingatnya kembali
Menekuri dan mempelajarinya
Menjadikan satu malam ini
Sebagai anugerah dari tuhan kami

Melalui untaian puisi sederhana ini
Kami mencoba mengisahkan
Perjalanan Sang pemimpin
Dalam : ‘ISRO’ MI’ROJ’

Malam ini Allah mengirim dua malaikat
Untuk menghiburmu dalam duka yang dalam
Istri dan pamanmu yang telah menemanimu dalam berjuang
Kini telah tiada
Namun, Allah lebihlah tau

Dua malaikat yang mulia
Telah datang menghampirimu
Mengajakmu untuk menghadap Sang Rahman
Dalam pekatnya malam

Malaikat membelah dadamu
Mengambil sebongkak daging
Hatimu didersihkan
Dari sifat yang tercela
Dengan menggunakan air zam-zam

Kini kaupun telah siap
Malaikat memeberimu tunggangan
Yang kecepatannya melebihi semuanya
Sekali melangkah, sejauh mata memandang pun terlampaui

Malam itu kau menyusuri gelapnya malam
Bersama dua malaikat menuju tanah mulia
Masjidil aqsho yang kau tuju
Mempersiapkan diri menghadap Sang Kholiq

Dinginnya malam tak membuatmu menggigil
Pekatnya malam tak membuatmu gemetar
Gelapnya malam tak membuatmu buta
Karena kaulah insan yang mulia

Kini, sampailah di suatu tempat
Yang kau pun belum pernah meliahatnya
Semua yang melihatmu
Mengucapkan salam penghormatan
Bak sang hamba menyambut tuannya

Terdengar gemuruh menggelega
Menggema disetiap sudut langit
Malaikat bertasbih
Memuji Sang Kholiq

Ketika kau melihat ke arah kanan
Senyum kecil menghiasi raut wajahmu
Tapi, ketika kau menoleh ke arah yang lain
Sedih pun menyelimuti pandanganmu
Sungguh kaulah manusia pilihan
Sholawat serta salam kami curahkan kepadamu

Kaupun terus meninggi
Menembus ruang dimensi
Hingga malaikat pun tak bisa menemanimu lagi
Kini tinggal kau sendiri
Menghadap Sang ilahi

Ketika kau memasukinya
Kau pun bersujud
Terasa akan hadirnya Sang Kholiq
Kerajaa-NYA bergetar kencang
Bak bendera berkibar
Kerajaa-NYA tak kuat menyambutmu
Manusia yang tak seperti manusia

Allah memberi salam kepadamu
Tapi kau bertanya:
Dimanakah salam buat ummatku?
Allahpun tersenyum dan memenuhi permintaanmu
Kau diperintah untuk sholat
50 waktu dalam sehari
Dan kaupun mengiyakan
Karena patuh pada Sang Rohman

Namun itu hannya sementara
Musa menghadangmu dan menanyaimu
Perihal apa yang telah kau terima dari tuhanmu?

Setelah kau beri tahu
Musa menyuruhmu kembali mengahadap Sang Rohman
Meminta keringanan dalam perintah sholat 50 waktu
Dan kaupun kembali lagi

Begitu seterusnya
Setiap kali kau bertemu musa
Setiap itu pula
Musa menyuruhmu kembali menghadap Sang Rahman
kau pun enggan kembali
Rasa malu menyelimuti hatimu
Dan kini
Kewajiban sholat 50 waktu
Menjadi 5 waktu

Kau pun kembali bersama jibril dan mikail
Menuju kembali ke dunia
Dalam perjalanan hanya semalam
Mengalahkan para ilmuan
Yang menciptakkan pesawat ulang alik
Yang tercepat sepanjang masa

Kedua malaikat telah kembali
Meninggalkan hati yang masih gelisah
Teringat jelas perjuangan dua manusia
Yang telah menemanimu dalam suka dan duka

Bulan tampak purnama
Bersinar menerangi dunia
Menemani setiap hati yang merindu Tuhan
Menyinari gelapnya malam

Usai sudah perjalanan satu malam
Menyibakkan sejuta kenangan
Menampakkan satu tanda
Kaulah Sang utusan

Dan kami
Akan selalu menjaga sejarah ini
Meskipun ajal menjemput
Sebagai penghormatan
Atas jasamu yang tiada balasan

Ya Allah . . . .
Kami bukanlah manusia sepertinya
Dan cinta-Mu kepadanya
Tak sama
Dengan cinta-MU pada kami

Penghambaannya kepada-MU
Tak sama
Dengan penghambaan kami

Cintanya kepada-MU
Tak sama
Dengan cinta kami kepada-MU

Kami hanya manusia lemah
Manusia yang penuh dengan kekurangan
Manusia yang tak punya hati tulus
Manusia yang tak punya rasa terima kasih
Manusia yang berselimut dosa
Manusia yang menyombongkan karunia-MU

Maka . . .
Muliakanlah kami karenanya
Ampunilah kami dengan kemuliaannya
Satukanlah kami dengannya
Dalam surga-mu
Yang kekal dan abadi

Keagungan Nabi Muhammad – oleh Ahmad Sururi
Surabaya