Category Archives: Puisi Kenangan

Kenangan – oleh Arcadia Noriansyah

Aku memiliki sayap
beribu ribu bulu menghiasi sayapku
begitu anggun saat kukepakan
sangatlah menawan saat aku terbang

Tujuanku mencapai nirwana
satu per satu bulu sayapku lepas
sakit ku rasakan
dari akar bulu – bulu itu
merintih kesakitan karenanya
Continue reading

About these ads

Dirimu… – oleh Putri Nur Azizah

Semua berawal dari sini
Menyapa hujan penyejuk
Lewat celah sempit nan kecil
Dengan udara kotor dan pengap

Nirwana telah terbuka
Cakrawala telah melebar
Hujan telah reda
Namun aku masih mengitip
Continue reading

Kenangan – oleh Sandi Pamuda

Hari yang indah pun datang
Menantikan suatu keajaiban
Bersabar tuk menantinya
Hanya kenangan kokoh ini yang ada
Menemaniku dalam kehidupan ini
Tiada yang mampu teukir dalam relung
Tiada duka yang tercipta
Hanya untuk dirinya ku menunggu
Menunggu dalam kesepian tak berujung
Ini lah yang bisaku tulis kenangan-kenangan yang indah
Saat kita bersama menjalani cerita suka duka
Hanya keajaiban menanti kita
Tuk menjalani kisah-kisah kita bersama
Relung hati yang terukir kenangan yang indah
Tanpa tiada hari yang tersisa
Menantikan ulang kenangan itu
Yang ada dalam relung hati ini

Kenangan – oleh Sandi Pamuda
Baturagung, Gubug, Grobogan
facebook.com/sandipamuda

Kenanganku – oleh Nur Saputri

Berawal dari pertemuan awal sekolah
Dia tersenyum kepadaku
Ku balas senyumnya
Dia baik terhadapku, lembut dan dermawan
Dia memanggilku adek
Aku panggil dia abang
Dia kakak kelasku
Ramah dan tamah
Sopan dan segalanya
Aku menyukainya
Dengan sikapnya yang dewasa
Lambat laun aku akrab dengannya
Semakin dekat
Layaknya saudara
Aku sering curhat dengannya
Begitu juga dia
Dia . . .
Sosok baru untukku
Setelah sahabatku disana
Aku ingat saat dia panggil aku
“sayang”
Itu kenanganku dengannya
Bukan cerita cinta
Hanya kasih sayang
Aku dan sahabatku
Lalu mana kenanganmu?

Kenanganku – oleh Nur Saputri
(Putry Pandawa Karya : 28/10/2012)
Sekadau

Hati yang terluka – oleh Rani Pandini

Asa yang sirnah tak mampu lagi bertahan didalam pedihnya luka
Hati yang terus menangis melihat sosok dirimu yang kini telah bahagia bersama orang lain…
Air mata yang terus menerus menetes mengiringi kepedihan hati ..
Yg terluka karenamu ..
Hati yang dulu selalu bahagia bersamamu..
Kini hanya menjadi sebongkah kepedihan yang tak dapat merasakan apa-apa..
Kenangan yang selama ini yang selalu membuatku merindukanmu..
Sejenak hatiku berkata ..
Secepat ini ,, semudah ini ,, kau melupakan ku
Dan semua janji mu ..
Secepat ini sosokku ku telah tergantikan dengan orang lain dihatimu..
Kasih..
Tahukah kamu aku disini merindukan mu disisiku..
Air mataku terus mengalir jika melihat engkau bersamanya..
Apa salahku sehingga kau sekejam ini menyakitiku..
Kesetiaan, kejujuran, serta kasih sayangku yang tulus padamu
Kau balas dengan goresan dihati ini
Kini aku menyerah..
Ku relakan kau meski hatiku menangis

Hati yang terluka – oleh Rani Pandini
Jambi

Ning – oleh Sahdan Kalahari

Ada segumpal kenangan yang terlewatkan
Saat ku kembali ke kotamu
Sebuah kenangan manis berbingkai cinta
Yang hilang…..

Sewindu lebih kutinggalkan
Kenangan kita yang terukir
Di simpang jalan malioboro
Disitu saat pertama kita bertemu
Dan disitu saat terakhir kita bersama…

Ning…
Jauh jalan yang harus kita tempuh,
Membuat kita lupa..!!!
Bila kita pernah mengukir janji setia
Di tepi jalan ini

Ning…
Aku masih ingat
Saat kita berjalan berdua
Menyusuri tanah basah di tepi alun – alun selatan
Dan berpisah untuk kembali bersua esok hari
di dekat plengkung gading

Aku masih ingat…!!!

Ning…
Aku kembali untuk menemuimu
Setelah lebih dari sewindu kita berpisah

Dan dibawah langit jogja…
Kutatap lekat nisan indah
Disitu terukir namamu.

Ning – oleh Sahdan Kalahari
Balikpapan

Walau bertahan takkan berarti – oleh Ge Noah

Menatap langit tinggi kian menghitam,
Yang jauh disana aku merindukan datang
Ditepian hati aku dambakan Mati,
Dihela nafas aku renungi.

Semua yang takkan pernah abadi
Walau bertahan takkan berarti.

Diam ku ini hanya ingin sendiri,
Bukan berarti aku tak bermimpi
Kais kais awan yang kian mendekati
Seperti ingin membawaku pergi.

Desir-desir angin arahkan kaki agar melangkah cepat ku pergi.
Aku disini seakan terpatri dalam hidup yang aku jalani.

Kemanakah akhir dari semua ini akankah ku tenggelam dalam ilusi..

“Walau bertahan takkan berarti oleh Ge Noah “
Bogor