Category Archives: Puisi Penantian

Disini adalah tempat berbagi serta Kumpulan Puisi Penantian terbaik yang dikirim oleh sahabat puisi Di Indonesia.

Bagaikan punguk merindukan bulan – oleh Ridwan Sopwan

Tangisan jiwa ini telah hilang
Meninggalkan sebuah perasaan
Tapi hati ini selalu menunggu,
Menunggu kehadiran mu

Apa yang harus aku lakukan?
Apa aku harus terus bersabar?
Jiwa ini akan terus menunggu,
Walau aku harus mati esok hari…
Continue reading

About these ads

Derita Penantian – oleh Miftachul Jannah

Bangku reyot yang telah lapuk
Semak belukar bergelayut riang
Menjalar diseluruh pekarangan tubuhku
Hingga tiada yang ingin menyapaku

Rintihan suara tangis yang telah lama membisu
Seakan sembuh luka yang telah tergores
Tapi lagi kau ukirkan duri di dalam hatiku
Sakit, semuanya sakit

Continue reading

Kasih Tak Bertuan – oleh Althaf Vandharo

Sekian lama kunanti-nanti
Hari berganti musim pun pergi
Menapaki titian nan sunyi
‘Tuk mencari kekasih yang diimpi-impi

Jikalau kini sudah ku dapati
Kekasih manis dambaan hati
Pastilah sepi mulai berganti
Menjadi cinta yang bersemi

Tetapi apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
Hatiku hampa tak berpenghuni
Makin berdebu dan semakin sunyi
Apakah ini yang ku nanti?

Percuma saja punya cinta
Sedangkan saja tak’da tuannya
Jiwa tersiksa asa pun hampa
Biarkan semua menyesakkan dada

Kasih Tak Bertuan – oleh Althaf Vandharo
Jakarta

Gelap hati – oleh Fernandez

Terdiam di sudut gelap hati
menanti datang nya cahaya
Tenggelam dalam gelap nya malam.
menanti datang nya hari……

Kemanakah harus ku cari…..
Apakah yang haru kucari…
Adakah tujuan dalam langkah ku…..
Siapakah yang kucari……

Berharap….
ku terus berharap………….

Datang nya cahaya itu
Datang nya hari itu…..
yang menuntun langkah ku……..
tuk menemukan mu……
tuk menemukan kembali……
langkah hidup ku……..

Menanti….
ku masih menanti…..
wahai cahaya…..
tunjukanlah sinarmu…..
terangkanlah hariku………..

Gelap hati – oleh Fernandez
Labuanbajo

Ayu ( Someday ) – oleh Rivi Hamdani

Begitulah aku mengenal namamu dari senyumanmu
Begitulah aku mengagumimu karena kesederhanaanmu
Entah apa yang aku rasakan saat ini
Tak banyak pula yang aku pahami

Ayu,
Aku begitu memahami dengan diriku padamu
Tak semudah ku balikkan telapak tanganku
Memilikimu adalah apa yang menjadi imajinasi
Bahkan rasa yang menghampiri, tak dapat kupungkiri

Ayu,
Aku masih sebatas memandangmu
Aku masih sebatas mengagumimu
Biarlah ini berjalan bersama penantian
Biarlah semua kupendam di belantara harapan

Someday ,,,,
Dihadapanmu kulingkarkan sebuah ikatan suci
Kupinta dirimu dengan bismillah
Inilah keyakinan yang pasti
Karena kehendakNya cinta akan merekah

Ayu ,,,
Izinkan aku mencintaimu hingga dipenghujung nafas ….

Ayu ( Someday ) – oleh Rivi Hamdani
Surabaya

Cerita Buat Saudara Kandung – oleh Dendi Lesmana

Tiadakah kau terpaut
Pada gemparnya haluan dunia
Kini aku sendiri
Dalam heningnya sepi

Mengapakah kau pergi
Mengapa berlari
Disaat jiwa_jiwa hancur
Diombang_ambing kacaunya dunia

Kemanakah kau saudara ?
Tiada henti kumencari
Ingin rasa lenyapkan mimpi
Bila tiba esok sendiri

Kembalilah saudara kandung
Lihatlah cerita kini
Lelah dipandang
Tiada terkenang.

Oleh: Dendi Lesmana.
Cianjur

Senandung Akhir – oleh Nanda Insadani

Burung-burung melayang menjauh pulang
Seketika pertiwi berguncang sembari meretak
Tersadari wajah langit tampak teramat malang
Matahari pun tiada bergembira
melihat manusia hampa tak berotak

Mencari apa?hidup atau pahala?
Tak ada gunakah hidupmu untuk hadapi ini?
Tak ada gunakah pahalamu di penantian nanti?
Diamlah,rasakan nikmatnya dosa dengan sayatan bencana yang kian tiba

Tak kan kuhiraukan tangisan bumi meluap di segala penjuru
Bahkan gunung-gunung memuntahkan amarahnya
Masih ku tenang santai hadapi rasa baru
Sambil menari bersama pena dengan nyata

Selesailah senandungku ini…
Kutidurkan pena diatas lumatan api
aku bangun bangkit dengan secarik kertas
Menanti panggilan ruh menuju audisi…

Senandung Akhir – oleh Nanda Insadani
Bagan Sinembah,Riau