Category Archives: Puisi Penyesalan

Hampa Sudah – oleh Neelam Zamia

di kejauhan malam
hanya diam menatap bulan
menatapnya dengan penuh harap
harapan yang berlalu sebelum terlelap

tak ku dengar
indahnya bisikan kata indah mu
tak ku lihat senyuman terpapar di wajahmu
tak ku rasakan bahagia di hati ku
Continue reading

About these ads

Dunia berputar – oleh Marsani Shadra Ibnu HIbban

Ku tau
Dunia ini
Pasti Berputar
Ku ingin
Detik ini
Berharga bagimu

Ikhlas dan menjalaninya
SEpenuh hati
Menjadi kunci
Hatimu
Berputar dan berubah
Diatas dan di bawah
Hidup ini seperti jam
Hidup jalani ke depan
Continue reading

Maklumat sang Hitam – oleh Eni Kaeni

Lihat langit lepas
Atau debur ombak yang kian terhempas
Mimpi itu kian nyata, hijau akan segera menyala
Bahkan berubah kekuningan di malam harinya
Jangan berteriak,
Kalau hanya menambah gema yang beranjak
Atau semak kian membludak Continue reading

Lara Hati – oleh Yadi Mulyadi

kini ku hanya bisa memandangi fotomu
yang sengaja kugantung di dinding kamarku
kamu yang dulu slalu beri warna di hidupku
kamu yang pernah lukiskan cerita indah di hidupku.

semua ini tentang aku dan kamu
tentang kenangan aku dan kamu
tentang lembaran yang pernah kita buat dulu
lembaran yang kini jadi masa lalu.
Continue reading

Kau dan Dirinya – oleh Diyah Anggraini

Kesatuan hatiku telah luka
Sejenak akal sehatku goyah
Nafasku tersengal sengal menahan
kepedihan

Harapanku padamu untuk menghapus lukaku hanyalah impian
Kau hadir disisiku memberikan cerita hampa
Aku mene
rima bersama senyumku yang terluka sampai saat ini aku bertahan untukmu
Continue reading

Cermin Penghibur – oleh Fahrizal Ahmad

Ketika mentari menyembunyikan sinarnya
Dan gelap datang di pertuankan oleh bulan
Dan ku mulai merenung depan cermin kehidupan
Dengan sinis ku menatap mata ini

Ku tak bisa menyembunyikan wajahku
Dengan sejuta penyesalan aku menatap diriku
Dan cermin pun seakan menangis
Seakan dia tau tentang raut wajah ini
Tentang hati yang terluka
Tentang cinta ku sia-sia kan
Continue reading

Puisi Hari dan Renungan Mati – oleh Sahdan

Ketika pagi tak lagi indah
Disitu kita untai kalimat dakwah
Sembari melangkah
Dan meludah di atas tubuh yang resah

Ketika senja tak lagi jingga
Disitu kita tertawa
Mengejek jiwa dan manusia
Sembari mengisap ganja
Continue reading