Category Archives: Puisi Sedih dan Galau

Rasanya sakit – oleh Ratna Palupi

Dulu engkau sangat istimewa bagiku
dulu aku berharap engkau menjadi masa depan ku
dulu aku berharap engkau jadi cinta terakhir aku
tapi semua nya dulu .
Sekarang harapan itu telah hilang .
Sekarang harapan itu telah musnah .
Dan sekarang engkau telah pergi dengan cinta yang lain.
Continue reading

About these ads

Diary Senja – oleh Niah Azzahra

menatap hampa di langit senja
tiada yang tertera disana
selain goresan lembayung
aku cemburu . .
begitu yang ku tulis di dinding hati ini
bahkan tiada yang menghiasinya
seperti langit itu

ku pandangi lagi
sisa-sisa tinta di diary ku
hanya ada huruf-huruf yang menyayat perasaan ku
kertas itu semakin basah
menyamarkan kata-kata yang baru saja tertulis oleh pena ku sendiri
dan kegelapan malam pun merebak, seolah meredupkan mata ku yang sembab
Continue reading

Dia tanpa aku – oleh Rheny Setiyawati

sudah tertutup hati kecil ini
untukmu ..
ku akui saat ini aku masih sangat
mncintaimu ..
namun rasa itu tlah hilang karna
keegoisanmu, yang membuatku
benci padamu ..
kau tak prnah mengerti arti cinta
ini .
tak prnah engkau hargai diriku
slama ini . Continue reading

Inilah Daku – oleh Adola Laban

Siapa sangka aku bukanlah yang dulu
Terheran aku hanya begini dan begini

Apalah daya seorang kecil ini
Tak mampu berdiri di kaki sendiri
Tak ada yang patut di sanjjungkan
Continue reading

Dalam Naungan Senja – oleh Dewi Wahidatul Faiza

Menyusuri jalan setapak
yang dulu sering kitalewati bersama
mengukir kenangan indah
kala tangan ini bergandengan
dalam naungan senja ini…
saat kelingking kita menyatu
melafalkan janji cinta kita berdua
mengoreskan tinta indah
dalam kanvas hati
bahagia itu terasa sangat singkat
ketika… Continue reading

Luka dan Waktu – oleh Irfan S.P.

Jalan di lorong kehidupan.
Makin rapuh raga dalam langkah.
Langkah yang lama tegas,
kini terseok melambat.

Disangka luka di kalbu yang dulu sesayat
kan hilang dimakan waktu.
kan sembuh ia dilewat peristiwa.
Continue reading

21.12.2012 – oleh Effrida Ayni

Desember, kuberikan padamu setangkai mawar.
Katamu mawar itu indah, tapi berduri.
Kemudian aku mulai berpikir
Kenapa tidak aku memberimu setangkai mawar tanpa duri.

Desember, aku pergi menemuimu.
Kuberikan padamu setangkai mawar, tanpa duri.
Lagi-lagi kau bilang mawar itu indah, tapi tidak bewarna merah.
Dan aku mulai kesal.
Continue reading