Category Archives: puisi untuk ayah

Air mata Ayah – oleh Sharoh Widiasmara

Hari itu dia tersenyum
Namun air mata tetap mengalir di pipinya
Bagaimana mungkin seorang gadis kecil akan mengerti
Dulu memang aku bisa kau bohongi

Sekarang aku yang tersenyum
Namun air mata ku tetap mengalir
Aku bukan lagi gadis kecil yang bisa kau bohongi
Tahukah kau aku telah menjadi dewasa?
Continue reading

About these ads

Ayahku – oleh Nadya Ela Oktaviani

Wahai Ayahku ..
Engkau bagaikan perisai ..
Yang mampu melindungiku ..
Dari mara bahaya datang yang berusaha melukaiku..

Ayah ..
Kasih sayangmu yang begitu tulus ..
Yang mampu menenangkan hatiku ..
Hingga aku terjaga dalam naungan hangatnya kasihmu ..
Continue reading

Pulanglah Ayah – oleh Septy Amalia

Didalam kesunyian malam..
Ku terdiam dan membisu..
Kadang kala hati ini brtany_tanya..
Mengapa kau tinggal kan qw ayah..

16 thun sudah brlalu..
Aku ynk dlu kecil skrang..
Sudah beranjak dewasa..
16 thun q menanti
kedatangan mu ayah..
Continue reading

Orang Tuaku – oleh Agnes Elida Sitorus

Aku bangga kepada
Orang tuaku
karena mereka telah
merawatku dari kecil
sampai aku sekarang
sudah dewasa

Aku sangat bangga
kepada Orang tuaku
karena mereka tidak
pernah menggeluh
dalam membesarkanku

Dari aku kecil meraka
berusaha dan berkerja keras
untuk memenuhi kebutuhan hidupku

Terimaksih Ayah dan Ibu
atas kasih sayang
yang telah
diberikan kepadaku

Orang Tuaku – oleh Agnes Elida Sitorus
Pontianak

Papa – oleh Arleisha Aurelia

Menilik kembali kisah lampau
menarik kata hati yang bermakna
mengantar jiwa yang senang
bersama dengan sosok hangat dalam jiwa

kebahagiaan sejati mengalir dekatnya
jenaka sering dihaturkan dalam bibirnya
membuatku terbahak-bahak tak henti
tak pernah kusesali semua

sekarang aku sudah beranjak remaja
kanak-kanak ku sudah melayang
sekarang aku hanya memikirkan pangeran tampanku
sekarang aku hanya kukuh mempehatikan tampilanku

belia ku menghantarkan nafas baru
nafas yang duka sekaligus suka
duka kau tinggalkan aku
suka karena aku bisa merindukanmu selalu

mengapa kau tinggalkan aku
mengapa waktu membiarkan kau hilang
aku merindukanmu pa..
sangat merindukanmu..

kuingin gapai tanganmu lagi
membentuk sebuah angan bahagia bersamamu
sehingga mataku dan berair lagi
supaya aku dapat menghiasi bibirmu dengan canda

rambut yang semakin memutih
membuatku lara
raga yang semakin letih
membuatku merana

aku mencintaimu
aku menyayangimu
kubutuhkan pelukanmu
tak sekedar dalam mimpi..

Papa – oleh Arleisha Aurelia
Depok

Ayahku – oleh Supriadin

Kelam hitam kulitmu
Gambaran perjuangan melawan sang surya
Regang ototmu
Gambaran jerih payah mencari nafkah

Sengatan ,,, matahari ,,, kau tak hiraukan
Waktu ,,, demi waktu kau dimakan usia
Ragamu yang lusuh
Kau tetap gagah

Hamparan ladang dan sawah
Kau buat menjadi surga
Aneka buah dan biji – bijian
Menjadi berkah kehidupan

Keluarga kau nafkahi
Dari keringat jerih payahmu
Aku menjadi manusia karenamu

Ayah ,,,,
Aku kagum perjuanganmu
Aku hormat suri tuladanmu

Ayah ,,,,
Aku akan mewariskan semangatmu
Aku kan teruskan perjuanganmu

Karya : Ade Supriadin
Bandung Barat

Kenangan bersama ayah – oleh kamal kacaribu

Hari-hari itu terasa damai
Meski ku sedikit takut dengan damai itu
ku nikmati hari-hari bersama ayah
Ada sedikit ruang sepi di hatiku seolah akan kehilangan tapi aku sulit menerjemahkan..

Cerita ayah begitu dalam
Seolah ayah berkata, ayah mau pergi
Tugas ayah sudah selesai, berbahagialah..:)

Ternyata 2 bulan terakhir bersama ayah
Adalah kenangan terakhir bersama ayah

Ku tak sanggup menahan sedih mendalam di hatiku
Ku masih ingin menjalani hari-hari bersama ayah

Allah jua tempat kembali semuanya
Ku ikhlaskan Allah memanggil ayah..

Ya Allah maafkan dan ampuni semua khilaf dan salah ayah tercinta
Bahagiakanlah dan tempatkanlah ayah di tempat yang terbaik di sisiMu…amin ya rabbal alamin….

Kenangan bersama ayah – oleh kamal kacaribu
Depok