Category Archives: Puisi Syukur

Perangai Jiwa – oleh Uswatun Hasanah

Selalu ada celah di setiap jiwa yang terhimpit
Ketika ruang menyempit terpikirkan olehku bahwa ini hanya sesaat saja
Bahkan seperti nafas yang hanya tertinggal satu helaan saja
Masih tetap ada keajaiban dari Tuhan yang senantiasa ada
Lemahku bukan membuatku tak berarti
Lemahku bukan membuatku tak mampu melakukan apapun
Lemahku hanya ingin menunjukkan betapa kuatnya aku
Betapa hebatnya aku mampu bertahan saat berada di bawah tanpa pertolongan
Betapa bersyukurnya aku masih memiliki kesempatan mengenal kelemahanku
Continue reading

About these ads

Berarak Hujan – oleh Uswah Hasna

Hujan mengajarkan akan ketenangan dan pengharapan
Saat ia mulai membasahkan bumi dengan airnya
Ia bergerak menyapa agar kau tak perlu lagi dirundung kekeringan
Mulailah bersemi kembali kuncup maupun tunas-tunas kecil
Agar kau memberi warna warni saat mata mulai menyapu sekitar

Hujan pun mengajarkan kedamaian dan aroma basah
Aroma yang setiap ia jatuh tak akan pernah terlupakan oleh siapapun
Senantiasa mengembalikan memori pada masa lampau
Ya…dan begitulah kau seharusnya
Demikianlah peranmu saat kau mulai mengaliri sudut kering
Continue reading

Selamat Datang Pagi – oleh Catur Widyaningrum

Terimakasih Tuhan Engkau ijinkan aku untuk menyaksikan kehadirannya lagi
Bersama kokok ayam yang akan berlalu
Mentarikemerahan dibalik gunung yang berkabut tipis
Dan tetesan embun yang menggumpal di rerumputan yang sejuk
Dia datang lagi menyapaku
Membawa sejuta harapan
Mengiringi langkahku untuk memulai roda kehidupan hari ini
Selamat datang pagi Continue reading

Hujan Tiba – oleh Satria Wibawa

Tak kala malam tiba
Hujan turun dengan derasnya
Sampah di jalanan disapunya
Hingga bersih tak tersisa

Petir menyambar-nyambar
Membuat kaca jadi bergetar
Setiap suara hampir tak terdengar
Suasana alam pun menjadi samar
Continue reading

Puisi : Hujan oleh – oleh Nandica

Rintik hujan lembut .
Menebarkan aroma khas tanah yang mendamaikan hati..
Meredakan amarah sesaat sebelumnya.
Menyejukkan pikiran.
Damai nan tentram.
Hujan sore itu sungguh istimewa.
Menjadi hujan pertama di musim hujan.
Tak ku biarkan terlewat begitu saja.
Menjadi hujan terindah yang pernah kurasakan.
Duduk dibalik jendela bersama selembar kertas dan tinta.
Turut serta dalam setiap moment hujan.
Mengarang sederet aksara penuh makna.
Continue reading

Petir,Hujan dan Kilat – oleh Anisa Syifa F

Wahai petir andaikan aku tahu makna dari setiap gelegarmu
Wahai hujan andaikan aku faham makna dari setiap bulir tetes air mu
Wahai kilat andaikan aku mengerti makna dari setiap kilatan cahayamu
Mengapa kalian bertiga tak berucap?
Mengapa kalian bertiga tak bicara?
Mengapa kalian bertiga tak berkata?
Wahai diam,ku mohon pergilah dari sisi kehidupan petir,hujan dan kilat..
Aku mohon,agar aku dapat mengertikan mereka,mengertikan keinginan mereka,kemauna mereka,dan harapan mereka..
ya tuhan apakah engkau memang tak mentakdirkan ,mereka untuk bicara?berkata?berucap?
entah lah hingga kini aku belum dapat jawaban pastinya…

Wahai angin,hujan,kilat terima kasih atas segalanya
Walau kalian diam,,tak apa aku akan berusaha mengerti dari setiap sisi kehidupan kalian.

Petir,Hujan dan Kilat – oleh Anisa Syifa F
Ngawi-Jawa Timur

Mereka – oleh Irtsi Kamilah

Terik matahari membakar senyumnya..
Titik-titik hujan menghanyutkan jeritannya..
Tertunduk malu kumelihat diri
yang tak pernah merasa puas hati
Akan kasih sayang Sang Ilahi..
Aku mungkin memang tlah kehilangan kedua nyawaku..
Namun Dia masih senantiasa mendampingi jiwaku..
Tuhan.. mungkin memang benar aku tak tau diri..
Slalu merasa kecewa dan tak puas hati..
Kini ku tersadar akan kehadiranMu..
Disaat kedua pandangku tertuju pada ‘mereka’..
Manusia yang tak sempurna
yang hidup menderita karna penguasa..
Yang berdiri tegak menginjak asa juga tawa ‘mereka’..
Bukankah mereka juga makhluk-Nya ?
Yang juga pantas tuk bersahaja..
Kini kusadar akan berartinya suatu kepedulian..
Tuhan..
Mungkin aku memang hina,
namun izinkan aku tuk bisa mengukir senyum di bibir ‘mereka’..
Mereka yang terpuruk diantara makhluk-Nya..
Mereka yang kehilangan pelangi harapan karena penguasa..
Namun ‘mereka’ yang masih berhati baja..
Yang mengetuk hatiku tuk mengingat karuniaMu..
Tuhanku..

Mereka – oleh Irtsi Kamilah
Jakarta